USHUL
NAHWU
(PEMBAHARUAN
NAHWU OLEH SYAUQI DHAIF )
Dosen
Pengampu:
Tamim
Mullah, M. Pd
Disusun
Oleh:
Fathor
Rosiqin 12310001
Mulik Nugroho 12310088
Thusan
Hamidi 12310087
Ahmad Muafi F 12310085
FAKULTAS
HUMANIORA
JURUSAN
BAHASA DAN SASTRA ARAB
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 2
Rumusan Masalah.......................................................................................................................................... 2
Tujuan............................................................................................................................................................ 2.........
PEMBAHASAN........................................................................................................................................... 3.........
Biografi Syauqi Dhaif.................................................................................................................................... 3
Sejarah Pemikiran Syauqi Dhaif.................................................................................................................... 3
Pemikirannya................................................................................................................................................. 4
PENUTUP..................................................................................................................................................... 7.........
Kesimpulan.................................................................................................................................................... 7
Saran.............................................................................................................................................................. 7
Daftar Pustaka............................................................................................................................................... 8
Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah
Subhanahu Wata’ala, karena limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat
menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat dan Salam
mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi
Wasallam. Dalam makalah ini kami membahas tentang Pembaharuan Nahwu Oleh Syauqi
Dhaif.
Makalah ini dibuat dengan berbagai pengamatan dan
beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan hambatan
selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk
memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif
dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi kita sekalian.
Malang, 5 Juni 2014
Penyusun
BAB I
Pendahuluan
Jika kita melihat kepada kitab-kitab
(madrasah-madrasah) yang lima, maka akan menarik jika dipelajari mengingat
pentingnya terhadap dunia linguistik
dan kesastraan. Hal ini terlihat dari meluasnya
kajian ilmu tersebut sehingga banyak melahirkan teori-teori, ilmuawan-ilmuwan
yang tersohor dengan kedalaman ilmunya dalam nahwu, dan
terbitnya buku-buku yang mengkaji nahwu.
Namun pada masa-masa sebelumnya, ulama-ulama nahwu lebih cenderung
membahas metode tertentu dalam pembaharun nahwu dengan tujuan memudahkan para
pengkajinya.
Ilmu nahwu telah mengalami banyak perubahan cara untuk merubah
metode yang ada sebelumnya, hal dalam rangka untuk memudahkan para pelajar
dalam bidang nahwu untuk banyak mempelajarinya, lebih-lebih untuk semua
kalangan. Hal ini telah berjalan sejak dahulu. Seperti yang dilakukan oleh
salah seorang ulama pembaharu nahwu,
yaitu Syauqi Dhaif.
Pada makalah ini, kami ingin membahas
tentang sedikit
biografi, sejarah
keilmuan pemikirannya, serta hasil
pemikiran terhadap
nahwu yang ada sebelumnya.
Syauqi Dhaif adalah ulama nahwu zaman modern. Beliau melakukan pembaharuan terhadap
ilmu nahwu yang ada sebelumnya.
Beliau mengatakan bahwa banyak orang-orang arab yang mengadu kepada beliau akan kesulitan yang masyarakat
alami pada waktu itu dalam memahami nahwu. Sebenarnya, pembaharuan- pembaharuan yang lalu
tidak memudahkan mereka (para pengkaji
nahwu atau masyarakat), tetapi sebaliknya, metode yang ada sulit bagi mereka untuk
memahaminya. Mereka juga mengatakan bahwa metode yang ada, menjadikan
penerima (pelajar nahwu) sulit
untuk belajar.
Rumusan Masalah
1. Siapakah Shauqi
Dhaif sebenarnya?
2. Apa yang
melatarbelakanginya mengadakan pembaharuan nahwu?
3. Apa saja hasil pemikirannya
tentang pembaharuan nahwu?
Tujuan
1. Mengetahui biografi Syauqi Dhaif.
2. Mengetahui
latar belakang mengadakan pembaharuan nahwu
3. Mengetahui
hasil pemikirannya tentang pembaharuan nahwu
BAB II
Pembahasan
II.I Biografi Syauqi Dhaif
Nama asli beliau adalah Syauqi Abdus Salam
Dhaif, namun lebih terkenal denga panggilan Syauqi Dhaif. Beliau lahir di Aulad Hamam, daerah Dimyat utara, Mesir pada 13 Januari
1910, dan wafat pada 14 Maret 2005, pada usia 95 tahun. Beliau adalah seorang sastrawan mesir dan
pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Bahasa Arab Mesir. Beliau juga banyak
menyusun kitab-kitab, terhitung 50 kitab yang beliau susun.
II.II Sejarah
Pemikiran Syauqi Dhaif
Selain seorang sastrawan, beliau adalah ulama nahwu zaman modern. Ketika beliau menerima pendapat serta pengaduan dari banyak orang
arab, beliau berinisiatif untuk melakukan rekontruksi terhadap ilmu-ilmu nahwu
yang ada. Sekiranya memberikan khazanah baru dalam keilmuan nahwu, dan hal yang
terpeting adalah memberikan pemahaman yang mudah tentang nahwu kepada pengkaji
nahwu, lebih-lebih kepada semua kalangan masyarakat.
Beliau merekonstruksi kembali pemikiran nahwu yang telah berkembang selama
ini yang dianggap menyulitkan pengajaran nahwu dengan prinsip mudah, gampang,
ringkas, sederhana, dan mudah dipahami oleh para pelajar bahasa Arab.
Sebenarnya, pembaharuan- pembaharuan yang lalu tidak memudahkan mereka,
tetapi sebaliknya, metode yang ada sulit bagi mereka untuk memahaminya. Dia juga mengatakan bahwa metode yang ada, menjadikan
penerima (pelajar nahwu) mengalami
kesulitan dalam memahaminya.
Dengan hal
inilah Syauqi Dhaif berinisiatif untuk menjadikan pembaharuan nahwu. Syauqi Dhaif mengawali upayanya dalam
pembaharuan nahwu dengan pen-tahqiq-an atau penguatan terhadap buku karangan Ibnu Madha yaitu ar-Radd ala
an-Nuhat wa al-Masyriq fi an-Nahwi, yang telah memberi warna baru dalam
khazanah ilmu nahwu. Beliau merekonstruksi kembali pemikiran nahwu yang telah
berkembang selama ini yang dianggap menyulitkan
pengajaran nahwu dengan prinsip mudah, gampang, ringkas, sederhana, dan mudah
dipahami oleh para pelajar bahasa Arab.
Pemikiran Syauqi Dhaif dalam pembaharuan nahwu kurang lebih sama dengan
konsep-konsep yang digagas oleh Ibnu Madha, hal ini dibuktikan dengan upaya
beliau terhadap pen-tahqiq-an buku al-Radd ala al-Nuhat karangan
Ibnu Madha. Beliau juga sependapat tentang pembuangan teori ’amil,
membuang ’ilat tsawani dan tsawalits, pembatalan teori qiyas, dan
juga meniadakan analisa teori-teori tanpa praktik, seperti i’lal. Hanya saja dalam tahqiq-annya beliau menambahkan pendapat-pendapat
yang mengokohkan teori-teori yang ada dalam buku tersebut.
Beliau menuangkan pemikirannya tersebut dalam beberapa bukunya yaitu Tajdid
al-Nahwi (1982), Taisiraat Lughawiyah (1990), dan Taisiru
al-Nahwi al-Ta’limi Qadiman wa Haditsan ma’a Nahji Tajdidihi (1986). Diantara
ketiga buku ini, yang paling masyhur dalam khazanah ilmu nahwu adalah yang
pertama yaitu Tajdid
al-Nahwi, yang menyajikan konsep-konsep
yang sempurna dalam pengajaran nahwu, dan juga memberi warna-warna baru yang
disandarkan atas perinsip-perinsip dasar yang bersumber dari buku Ibnu Madla.
II.II Pemikiran Syauqi Dhaif
Syauqi Dhaif meneliti kitab Ar Raddu Alan Nuhat tahun 1982
dengan menyimpulkan beberapa kesimpulan untuk mempermudah para pembaca dalam
mengkaji ilmu nahwu. Sebenarnya, ada beberapa kitab yang mana pada kitab-kitab tersebut
beliau menuangkan pikirannya, seperti Taisiraat
Lughawiyah (1990),
dan Taisiru al-Nahwi al-Ta’limi Qadiman wa Haditsan ma’a Nahji Tajdidihi
(1986).
Diantara
ketiga buku ini, yang paling masyhur dalam khazanah ilmu nahwu adalah yang
pertama yaitu Tajdid al-Nahwi, yang menyajikan konsep-konsep yang
sempurna dalam pengajaran nahwu, dan juga memberi warna-warna baru yang
disandarkan atas perinsip-perinsip dasar yang bersumber dari buku Ibnu Madha.
Dalam
pen-tahqiq-annya beliau merumuskan bahwa dalam upaya pembaharuan nahwu
terdapat enam pokok konsep yang ditawarkan, yang meliputi:
1. Penyusunan kembali
bab-bab nahwu yang tumpang
tindih, menambahkan, dan mengumpulkan bab-bab yang dianggap sejenis. Pembaharuan Nahwu yang dilakukan oleh Syauqi Dhaif dalam dalam bukunya ada
18 bab. Diantaranya :
a. Kana Waakhwatuha, Bab
kaada wa akhwatuha, Bab zhanna wa akhwatuha dan A’lama wa akhawatuha masuk
kepada bahasan maful bih karena dianggap fi’il yang lazim. Teori merofa’kan isim dan menasobkan
khobar diubah dengan isimnya menjadi failnya dan khobarnya
menjadi hal saja.
b. Bab ma, laa, laata. Meskipun
ada perbedaan bahwasanya ma beramal seperti Laisa. Namun tidak untuk La dan
Laata.
c. At-tanazu’. Pendapat
Bashrah: Sesungguhnya Amal pada amil yang kedua untuk menunjukkan kedekatannya
dan Amil yang kedua adalah berupa dlomir. Ulama Kufah berpendapat bahwa
Fi’ilnya Amil itu yang pertama, dan ma’mul yang kedua adalah didlomirkan.
Kemudian Syauqi Dhaif merubah pendapat tersebut bahwasanya dua fi’il itu
mempengaruhi kepada ma’mul.
d. Isytighal. Kebanyakan
dari contoh-contoh istighal dibuat oleh ulama ahli nahwu dan ada di ayat
Al-Qur’an: والأنعام خلقها . Pada bab ini kadang
disebut pada bab mubtada dan khabar atau maful yang dibuang fi’ilnya. Syauqi Dhaif
menyarankan pada bab istighal ini untuk merubahnya kepada bab Syibhil Jumlah.
e. Isim tafdhil, Bab
ta’ajub, Syifah musyabbahah, Af’al madh wa ta’zhim, Kinaayaat Al-‘Adad,
Ikhthishas masuk kepada bab Tamyiz.
f. Tahdziir, Al-Iqhra’
masuk ke bab Dzikr wal Hadf
g. Tarkhiim, tidak ada
gambaran secara jelas dalam ilmu tata bahasa, itu hanya lahjah bahasa arab
dahulu.
h. Istighatsah dan bab
nadbah masuk pada bab nida’.
2. Menghapus dua peng-i’rab-an, yaitu taqdiri
dan mahalli. Seperti
contoh dari I;rab taqdiri adalah جأء الفتى dibaca rofa’
tanpa harus menyebutkan rofa’ muqoddar yang aslinya dzommah.
3. Menghapus i’rab yang tidak efisien untuk kebenaran dalam pengucapan. I’rab yang danggap tidak efisien tersebut adalah bab danان yang
disukun/ Mukhoffaf,
Sebagian adawat Ististna’, bab adawat syarat, kam
istifhamiyah dan khabariyah, kata لاسيما
4. Meletakkan pengertian-pengertian dan kaidah-kaidah yang lebih spesifik pada
sebagian bab-bab nahwu. Secara garis besar Syauqi Dzaif berpendapat ada tiga definisi topik pembahsan materi nahwu yang perlu
diperbaharui, yaitu bab Maf’ul Mutlaq, Maf’ul ma’ah, dan bab hal.
5. Membuang penambahan-penambahan dalam bab nahwu yang tidak penting. Seperti
pembuangan kaidah-kaidah isim alat, karena isim alat bersandar
pada sima’i, dan tidak membuthkan kaidah. Seperti pertama kali yang dilakukannya tentang pengehapusan
syarat-syarat istiqaq isim tafdhil dan fi’il ta’ajub menurutnya hal seperti ini
cukup dibuat dengan cara mencontoh bentuk katanya tanpa perlu menyebutkan syarat-syarat
yang ditetapkan oleh pakar nahwu.
6. Penambahan topik yang dianggap signifikan. Seperti penambahan pembahasan
khusus yang disertai kaidah-kaidah pengucapan atau makhraj, kerena dapat
menumbuhkan kesadaran dalam menjaga al-Quran. Tambahan dalam hal ini
adalah ta’ ta’nits, nun jama’, nun tatsniyah. Nun jama dan tatsniyah adalah
pengganti tanwin.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Awal mula Syauqi Dhaif melakukan pembaharuan tentang nahwu adalah
ketika banyak masyarakat yang mengadu tentang kesulitan mereka dalam memahami
metode nahwu yang ada. Syauqi Dhaif memulai pemikirannya dalam hal pembaharuan
nahwu dimulai ketika mentahqiq kitab Ar-Raddu Ala Nuhat karangan Ibnu Madha. Banyak
hal yang di usulkan sebagai pemikiran sekaligus metode nahwu. Diantaranya
1.
Penyusunan kembali bab-bab nahwu
yang tumpang tindih, menambahkan, dan
mengumpulkan bab-bab yang dianggap sejenis
2.
Menghapus dua peng-i’rab-an, yaitu taqdiri dan mahalli
3.
Menghapus i’rab yang tidak efisien
untuk kebenaran dalam pengucapan
4.
Meletakkan pengertian-pengertian dan
kaidah-kaidah yang lebih spesifik pada sebagian bab-bab nahwu
5.
Membuang penambahan-penambahan dalam bab nahwu
yang tidak penting.
6.
Penambahan topik yang dianggap signifikan
Saran
Kepada para pembaca kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku
yang berkaitan dengan Pembaharuan Nahwu Oleh Syauqi dhaif. Dan apabila dalam
makalah ini terdapat banyak kesalahan, kami sangat mohon kritik dan sarannya
guna kesempurnaan makalah ini.
Daftar
Pustaka
1.
Afrinaldi
Yunas, Dalam Makalahnya: Pembaharuan Dalam Nahwu” Kajian Pada Kitab Al-Raddu ‘Ala Al-Nuhah Karya
Ibn Madha’ dan Tajdidun al-Nahw Karya Syauqi Dhaif, Padang, 2012
3.
Mahfud Mi’an, Dalam Makalahnya
“Syauqi Dhaif”, Tanggerang, 2012
4.
http://afrinaldiyunas.blogspot.com/
5.
http://mahfuzmian.blogspot.com/2012/06/syauqi-dhaif.html