Cari Blog Ini

Senin, 09 Juni 2014

USHUL NAHWU
(PEMBAHARUAN NAHWU OLEH SYAUQI DHAIF )
Dosen Pengampu:
Tamim Mullah, M. Pd





Disusun Oleh:
Fathor Rosiqin  12310001
Mulik Nugroho 12310088
Thusan Hamidi 12310087
Ahmad Muafi F 12310085



FAKULTAS HUMANIORA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2014





DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 2
Rumusan Masalah.......................................................................................................................................... 2
Tujuan............................................................................................................................................................ 2.........
PEMBAHASAN........................................................................................................................................... 3.........
Biografi Syauqi Dhaif.................................................................................................................................... 3
Sejarah Pemikiran Syauqi Dhaif.................................................................................................................... 3
Pemikirannya................................................................................................................................................. 4
PENUTUP..................................................................................................................................................... 7.........
Kesimpulan.................................................................................................................................................... 7
Saran.............................................................................................................................................................. 7
Daftar Pustaka............................................................................................................................................... 8



Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, karena limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat dan Salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam makalah ini kami membahas tentang Pembaharuan Nahwu Oleh Syauqi Dhaif.
Makalah ini dibuat dengan berbagai pengamatan dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. 
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian. 







Malang, 5 Juni 2014

                                               
                                                    Penyusun
BAB I
Pendahuluan
Jika kita melihat kepada kitab-kitab (madrasah-madrasah) yang lima, maka akan menarik jika dipelajari mengingat pentingnya terhadap dunia linguistik dan kesastraan. Hal ini terlihat dari meluasnya kajian ilmu tersebut sehingga banyak melahirkan teori-teori, ilmuawan-ilmuwan yang tersohor dengan kedalaman ilmunya dalam nahwu, dan terbitnya buku-buku yang mengkaji nahwu.
Namun pada masa-masa sebelumnya, ulama-ulama nahwu lebih cenderung membahas metode tertentu dalam pembaharun nahwu dengan tujuan memudahkan para pengkajinya. 
Ilmu nahwu telah mengalami banyak perubahan cara untuk merubah metode yang ada sebelumnya, hal dalam rangka untuk memudahkan para pelajar dalam bidang nahwu untuk banyak mempelajarinya, lebih-lebih untuk semua kalangan. Hal ini telah berjalan sejak dahulu. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang  ulama pembaharu nahwu, yaitu Syauqi Dhaif.
Pada makalah ini, kami ingin membahas tentang sedikit biografi, sejarah keilmuan pemikirannya, serta hasil pemikiran terhadap nahwu yang ada sebelumnya.
Syauqi Dhaif adalah ulama nahwu zaman modern. Beliau melakukan pembaharuan terhadap ilmu nahwu yang ada sebelumnya.  Beliau mengatakan bahwa banyak orang-orang arab yang mengadu kepada beliau akan kesulitan yang masyarakat alami pada waktu itu dalam memahami nahwu. Sebenarnya, pembaharuan- pembaharuan yang lalu tidak memudahkan mereka (para pengkaji nahwu atau masyarakat), tetapi sebaliknya, metode yang ada sulit bagi mereka untuk memahaminya. Mereka juga mengatakan bahwa metode yang ada, menjadikan penerima (pelajar nahwu) sulit untuk belajar.
Rumusan Masalah
1.      Siapakah Shauqi Dhaif sebenarnya?
2.      Apa yang melatarbelakanginya mengadakan pembaharuan nahwu?
3.      Apa saja hasil pemikirannya tentang pembaharuan nahwu?
Tujuan
1.       Mengetahui biografi Syauqi Dhaif.
2.      Mengetahui latar belakang mengadakan pembaharuan nahwu
3.      Mengetahui hasil pemikirannya tentang pembaharuan nahwu
BAB II
Pembahasan
II.I Biografi Syauqi Dhaif
Nama asli beliau adalah Syauqi Abdus Salam Dhaif, namun lebih terkenal denga panggilan Syauqi Dhaif. Beliau lahir di Aulad Hamam, daerah Dimyat utara, Mesir pada 13 Januari 1910, dan wafat pada 14 Maret 2005, pada usia 95 tahun. Beliau adalah seorang sastrawan mesir dan pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Bahasa Arab Mesir. Beliau juga banyak menyusun kitab-kitab, terhitung 50 kitab yang beliau susun.[1]

II.II Sejarah Pemikiran Syauqi Dhaif
Selain seorang sastrawan, beliau adalah ulama nahwu zaman modern. Ketika beliau menerima pendapat serta pengaduan dari banyak orang arab, beliau berinisiatif untuk melakukan rekontruksi terhadap ilmu-ilmu nahwu yang ada. Sekiranya memberikan khazanah baru dalam keilmuan nahwu, dan hal yang terpeting adalah memberikan pemahaman yang mudah tentang nahwu kepada pengkaji nahwu, lebih-lebih kepada semua kalangan masyarakat.
Beliau merekonstruksi kembali pemikiran nahwu yang telah berkembang selama ini yang dianggap menyulitkan pengajaran nahwu dengan prinsip mudah, gampang, ringkas, sederhana, dan mudah dipahami oleh para pelajar bahasa Arab.
Sebenarnya, pembaharuan- pembaharuan yang lalu tidak memudahkan mereka, tetapi sebaliknya, metode yang ada sulit bagi mereka untuk memahaminya. Dia juga mengatakan bahwa metode yang ada, menjadikan penerima (pelajar nahwu) mengalami kesulitan dalam memahaminya.
Dengan hal inilah Syauqi Dhaif berinisiatif untuk menjadikan pembaharuan nahwu. Syauqi Dhaif mengawali upayanya dalam pembaharuan nahwu dengan pen-tahqiq-an atau penguatan terhadap buku karangan Ibnu Madha yaitu ar-Radd ala an-Nuhat wa al-Masyriq fi an-Nahwi, yang telah memberi warna baru dalam khazanah ilmu nahwu. Beliau merekonstruksi kembali pemikiran nahwu yang telah berkembang selama ini yang dianggap menyulitkan pengajaran nahwu dengan prinsip mudah, gampang, ringkas, sederhana, dan mudah dipahami oleh para pelajar bahasa Arab.
Pemikiran Syauqi Dhaif dalam pembaharuan nahwu kurang lebih sama dengan konsep-konsep yang digagas oleh Ibnu Madha, hal ini dibuktikan dengan upaya beliau terhadap pen-tahqiq-an buku al-Radd ala al-Nuhat karangan Ibnu Madha. Beliau juga sependapat tentang pembuangan teori ’amil, membuang ’ilat tsawani dan tsawalits, pembatalan teori qiyas, dan juga meniadakan analisa teori-teori tanpa praktik, seperti i’lal. Hanya saja dalam tahqiq-annya beliau menambahkan pendapat-pendapat yang mengokohkan teori-teori yang ada dalam buku tersebut.
Beliau menuangkan pemikirannya tersebut dalam beberapa bukunya yaitu Tajdid al-Nahwi (1982), Taisiraat Lughawiyah (1990), dan Taisiru al-Nahwi al-Ta’limi Qadiman wa Haditsan ma’a Nahji Tajdidihi (1986). Diantara ketiga buku ini, yang paling masyhur dalam khazanah ilmu nahwu adalah yang pertama yaitu Tajdid al-Nahwi, yang menyajikan konsep-konsep yang sempurna dalam pengajaran nahwu, dan juga memberi warna-warna baru yang disandarkan atas perinsip-perinsip dasar yang bersumber dari buku Ibnu Madla.[2]

II.II Pemikiran Syauqi Dhaif
 Syauqi Dhaif  meneliti kitab Ar Raddu Alan Nuhat tahun 1982 dengan menyimpulkan beberapa kesimpulan untuk mempermudah para pembaca dalam mengkaji ilmu nahwu. Sebenarnya, ada beberapa kitab yang mana pada kitab-kitab tersebut beliau menuangkan pikirannya, seperti Taisiraat Lughawiyah (1990), dan Taisiru al-Nahwi al-Ta’limi Qadiman wa Haditsan ma’a Nahji Tajdidihi (1986).
Diantara ketiga buku ini, yang paling masyhur dalam khazanah ilmu nahwu adalah yang pertama yaitu Tajdid al-Nahwi, yang menyajikan konsep-konsep yang sempurna dalam pengajaran nahwu, dan juga memberi warna-warna baru yang disandarkan atas perinsip-perinsip dasar yang bersumber dari buku Ibnu Madha[3].
Dalam pen-tahqiq-annya beliau merumuskan bahwa dalam upaya pembaharuan nahwu terdapat enam pokok konsep yang ditawarkan, yang meliputi:
1.    Penyusunan kembali bab-bab nahwu yang tumpang tindih, menambahkan, dan mengumpulkan bab-bab yang dianggap sejenis. Pembaharuan Nahwu yang dilakukan oleh Syauqi Dhaif dalam dalam bukunya ada 18 bab. Diantaranya :
a.       Kana Waakhwatuha, Bab kaada wa akhwatuha, Bab zhanna wa akhwatuha dan A’lama wa akhawatuha masuk kepada bahasan maful bih karena dianggap fi’il yang lazim. Teori merofa’kan isim dan menasobkan khobar diubah dengan isimnya menjadi failnya dan khobarnya menjadi hal saja.
b.      Bab ma, laa, laata. Meskipun ada perbedaan bahwasanya ma beramal seperti Laisa. Namun tidak untuk La dan Laata.
c.       At-tanazu’. Pendapat Bashrah: Sesungguhnya Amal pada amil yang kedua untuk menunjukkan kedekatannya dan Amil yang kedua adalah berupa dlomir. Ulama Kufah berpendapat bahwa Fi’ilnya Amil itu yang pertama, dan ma’mul yang kedua adalah didlomirkan. Kemudian Syauqi Dhaif merubah pendapat tersebut bahwasanya dua fi’il itu mempengaruhi kepada ma’mul.
d.      Isytighal. Kebanyakan dari contoh-contoh istighal dibuat oleh ulama ahli nahwu dan ada di ayat Al-Qur’an: والأنعام خلقها  . Pada bab ini kadang disebut pada bab mubtada dan khabar atau maful yang dibuang fi’ilnya. Syauqi Dhaif menyarankan pada bab istighal ini untuk merubahnya kepada bab Syibhil Jumlah.
e.       Isim tafdhil, Bab ta’ajub, Syifah musyabbahah, Af’al madh wa ta’zhim, Kinaayaat Al-‘Adad, Ikhthishas masuk kepada bab Tamyiz.
f.       Tahdziir, Al-Iqhra’ masuk ke bab Dzikr wal Hadf
g.      Tarkhiim, tidak ada gambaran secara jelas dalam ilmu tata bahasa, itu hanya lahjah bahasa arab dahulu.
h.      Istighatsah dan bab nadbah masuk pada bab nida’.

2.      Menghapus dua peng-i’rab-an, yaitu taqdiri dan mahalli. Seperti contoh dari I;rab taqdiri adalah جأء الفتى  dibaca rofa’ tanpa harus menyebutkan rofa’ muqoddar yang aslinya dzommah.

3.      Menghapus i’rab yang tidak efisien untuk kebenaran dalam pengucapan. I’rab yang danggap tidak efisien  tersebut adalah bab danان  yang disukun/ Mukhoffaf, Sebagian adawat  Ististna’, bab adawat syarat, kam istifhamiyah dan khabariyah, kata لاسيما  

4.      Meletakkan pengertian-pengertian dan kaidah-kaidah yang lebih spesifik pada sebagian bab-bab nahwu. Secara garis besar Syauqi Dzaif berpendapat ada tiga definisi topik pembahsan materi nahwu yang perlu diperbaharui, yaitu bab Maf’ul Mutlaq, Maf’ul ma’ah, dan bab hal.


5.      Membuang penambahan-penambahan dalam bab nahwu yang tidak penting. Seperti pembuangan kaidah-kaidah isim alat, karena isim alat bersandar pada sima’i, dan tidak membuthkan kaidah. Seperti pertama kali yang dilakukannya tentang pengehapusan syarat-syarat istiqaq isim tafdhil dan fi’il ta’ajub menurutnya hal seperti ini cukup dibuat dengan cara mencontoh bentuk katanya tanpa perlu menyebutkan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pakar nahwu.
6.      Penambahan topik yang dianggap signifikan. Seperti penambahan pembahasan khusus yang disertai kaidah-kaidah pengucapan atau makhraj, kerena dapat menumbuhkan kesadaran dalam menjaga al-Quran.  Tambahan dalam hal ini adalah ta’ ta’nits, nun jama’, nun tatsniyah. Nun jama dan tatsniyah adalah pengganti tanwin[4].























BAB III
 Penutup
Kesimpulan
Awal mula Syauqi Dhaif melakukan pembaharuan tentang nahwu adalah ketika banyak masyarakat yang mengadu tentang kesulitan mereka dalam memahami metode nahwu yang ada. Syauqi Dhaif memulai pemikirannya dalam hal pembaharuan nahwu dimulai ketika mentahqiq kitab Ar-Raddu Ala Nuhat karangan Ibnu Madha. Banyak hal yang di usulkan sebagai pemikiran sekaligus metode nahwu. Diantaranya
1.       Penyusunan kembali bab-bab nahwu yang tumpang tindih, menambahkan, dan mengumpulkan bab-bab yang dianggap sejenis
2.      Menghapus dua peng-i’rab-an, yaitu taqdiri dan mahalli
3.      Menghapus i’rab yang tidak efisien untuk kebenaran dalam pengucapan
4.      Meletakkan pengertian-pengertian dan kaidah-kaidah yang lebih spesifik pada sebagian bab-bab nahwu
5.      Membuang penambahan-penambahan dalam bab nahwu yang tidak penting.
6.      Penambahan topik yang dianggap signifikan

Saran
Kepada para pembaca kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku yang berkaitan dengan Pembaharuan Nahwu Oleh Syauqi dhaif. Dan apabila dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan, kami sangat mohon kritik dan sarannya guna kesempurnaan makalah ini.








Daftar Pustaka
1.      Afrinaldi Yunas, Dalam Makalahnya: Pembaharuan Dalam Nahwu” Kajian Pada Kitab Al-Raddu ‘Ala Al-Nuhah Karya Ibn Madha’ dan Tajdidun al-Nahw Karya Syauqi Dhaif, Padang, 2012
2.      Dr.Ila’ Isma’il Al-Hamzawi, Mauqif Syauqi Dhaif Min Darsi Nahwi Dirasal Fil Manhaj Wat Tatbiq, Kulliyatul Adab, Jamiah Al-Maniya, Kairo, hal: 5-6
3.      Mahfud  Mi’an, Dalam Makalahnya “Syauqi Dhaif”, Tanggerang, 2012
4.      http://afrinaldiyunas.blogspot.com/
5.      http://mahfuzmian.blogspot.com/2012/06/syauqi-dhaif.html











[1] Afrinaldi Yunas, Dalam Makalahnya: Pembaharuan Dalam Nahwu” Kajian Pada Kitab Al-Raddu ‘Ala Al-Nuhah Karya Ibn Madha’ dan Tajdidun al-Nahw Karya Syauqi Dhaif, Padang, 2012 (http://afrinaldiyunas.blogspot.com/)
[2] Dr.Ila’ Isma’il Al-Hamzawi, Mauqif Syauqi Dhaif Min Darsi Nahwi Dirasal Fil Manhaj Wat Tatbiq, Kulliyatul Adab, Jamiah Al-Maniya, Kairo, hal: 5-6
[3] Mahfud  Mi’an, Dalam Makalahnya “Syauqi Dhaif”, Tanggerang, 2012(http://mahfuzmian.blogspot.com/2012/06/syauqi-dhaif.html)
[4][4] Dr.Ila’ Isma’il Al-Hamzawi, Mauqif Syauqi Dhaif Min Darsi Nahwi Dirasal Fil Manhaj Wat Tatbiq, Kulliyatul Adab, Jamiah Al-Maniya, Kairo,  hal 42-53








Tidak ada komentar:

Posting Komentar