Oleh
Thusan hamidi
Subhanallah, tak terasa
malu kita kepada orang lain mengalahkan malu kita kepada Allah dan Rosulnya??? Banyak
diantara umat Islam yang tak memikirkan prasaan Nabi SAW,melainkan memikirkan
perasaan orang lain.
Tepat pada tanggal 14
januari 2014 bertepatan dengan lahirnya Manusia paling sempurna, kekasih Allah
SWT, Nabi kita yang mulia MUHAMMAD SAW, saya mendapat ilmu yang begitu besar
dan penting, karna begitu saya mendengar ceramah dari Adda’i Ilallah Alhabib
Thohir bin Muhammad alkaff hati saya bergetar, bulu merinding seakan begitu
banyak dosa yang hamba lakukan, sehingga membuat hati Nabi tersakiti.
Singkat cerita, dakwah
Nabi selama 23 tahun, tidak pernah berjalan mulus seperti sedia kala, karna
banyaknya orang kafir yang ingin
menyakiti Nabi SAW, akan tetapi beliau sabar dan teguh menghadapi segala
rintangan dan cobaan, maka suatu hari ketika beliau dakwah di suatu tempat,
beliau dilempar dengan kotoran hewan, akan tetapi beliau sabar dan teguh, subhanallah. Lantas salah seorang
sahabat ingin sekali membalas kelakuan mereka, akan tetapi beliau melarangnya,
bahkan gunugpun ikut berbicara karna sikap orang kafir kepada Nabi yang mulia,
gunung ingin menghantampan dirinya kepada orang kafir tersebut, namun apa yang
dikatakan Nabi yang mulia, “ jangan kau sakiti mereka, boleh jadi anak mereka,
cucu mereka dan keturunan mereka akan jadi umat muslim seperti kita (bahasa
mudahku). Lantas para sahabat terdiam dan terharu dengan prilaku beliau, betapa
tangguhnya dakwah yang dibawakan beliau, hingga rela berkorban demi kemaslahatn
umat, lantas suatu hari beliau berkata, akan datang 73 golongan yang terpecah
dalam islam,akan tetapi hanya satu golongan yang masuk islam, maka pertahankanlah
golongan tersebut.
Betapa besar pengorbanan
beliau sehingga Allah SWT menobatkan Rosul sebagai orang yang keras kepada
kekufuran dan mengasihi yang beriman. Bahkan bukan hanya Nabi saja yang
semangat dalam berdakwah, Nabi pun menyuruh semua umat islam untuk
memperjuangkan kemurnian islam. Sehingga para sahabatpun mengikuti jejak
beliau, sebagai mana semangat sayyidina Umar ketika ikut perang badar bersama
Rosululullah, tatkala anaknya masih kafir ia perang dengan kelompok anaknay
tersebut, maka atasa izin Allah islampun memenangkan perang tersebut dan si
anak tersebut masuk islam, lantas berceritalah anak itu kepada sang ayah Umar, “
ayah, begitu banyak kesempatan aku untuk membunuh ayah, akan tetapi aku masih
ingat jika kau adalah ayahku, maka kau tidak jadi kubunuh”, lantas Sayyidina
Umar pun berkata “ wahai anakku, andai aku punya kesempatan untuk membunuhmu,
akan kubunuh kau dengan pedangku.”masyaAllah
, begitu besar dakwah ajaran nabi untuk menegakkan islam, Sayyidina Umar
lebih rela menyakiti anaknya bahkan membunuhnya ketika ia kafir dari pada
menyakiti perasaan Nabi SAW. Ia takut jika tidak menegakkan kebenaran Allah dan
Rosulnya akan murka kepadanya, oleh karnanya ia berjuang hingga titik darah
penghabisan.
Dahulu nabi sangat
murka kepada orang yang melakukan kemaksiatan, akan tetapi sekarang umat islam
malu menegakkan kebenaran, banyak dari kalangan kita takut menyinggung perasaan
yang bermaksiat,akan tetapi apakah tidak difikirkan kita tidak menyinggung
perasaan Nabi SAW, karna Islam yang sesungguhnya tidaka akan pernah ridho
dengan kemaksiatan!!!!! Akan tetapi zaman sekarang lebih mementingkan perasaan orang lain, takut hubungannya renggang dengan yang bermaksiat,
padahal tanpa kita sadari Nabi tersinggung dengan prilaku umat yang seperti
ini.
Lantas tersirat dalam
benak pikiranku, mengapa hal sepele seperti ini tidak terfikirkan olehku dan
kita semu,bahwa Nabi kita MUHAMMAD SAW JUGA PUNYA PERASAAN!!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar