Cari Blog Ini

Selasa, 31 Desember 2013

Jalanku, Hidayahmu

Oleh Thusan Hamidi

Modern ini, sangatlah banyak masyarakat yang menganggap bahwa hidayah yang diperoleh semua insan datangnya dari tangan ulama’ tertentu, dengan mengatakan setiap ulama’ pasti bisa memberikan cahaya hidayah dalam hidup sebagaimana para ulama’ mendapatkannya, sejatinya itu tidak benar, karan hanya Allahlah yang bisa memberi hidayah kepada para insan, Dialah maha kuasa atas segala hal, Dialah sebaik-baik perencana yang mengatur kehidupan di jagat ini.
           
Banyak dari kalangan orang alim menyampaikan dakwahnya dengan segala hal, dengan tujuan agar mereka meniru dan masuk dalam agama yang dikehendaki, akan tetapi sangatlah minim dan jarang sekali terjadi hal semacam itu, bahkan mirisnya mereka mengolok-olok para alim yang menyampaikan dakwahnya dengan olokan yang pahit dan mengenaskan. Na’udzubillah.

Meski hidayah milik Allah, kita patut bangga atas segala kerja keras para alim ulama’ yang senantiasa memberikan ajaran-ajaran yang masih kental dengan ajaran Rosul SAW, karna di era zaman ini sangat jarang adanya seseorang yang alim dalam ilmu agama, sebab terjadinya kemajuan berbagai teknologi, berkat merekalah kalangan umat muslim umumnya masih mengetahui syariat-syariat agama yang benar.

Maka dengan wasilah mereka Allah akan memberi hidayah kepada para umat di dunia ini.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Yahya bin Aktsam, beliau berkata:

Ketika masih menjadi seorang amir, Al-Ma’mun mempunyai sebuah majelis pertimbangan. Di antara para hadirin ada seorang lelaki Yahudi yang berpakian bagus, berwajah ganteng, dan berbau harum, Orang yahudi itu selalau berbicara dengan baik. Ketika majelis bubar, Al-Ma’mun memanggilnya dan bertanya kepadanya: “Apakah engkau seorang yahudi?“. Orang itu menjawab, “ Ya”. Al-Ma’mun berkata, “Masuklah ke dalam agama Islam supaya aku perlakukan engkau sebagai Muslim”. Orang Yahudi itu berkata: “Aku tetap dalam agamaku dan agama bapak-bapakku”. Kemudian ia pergi.

Setahun kemudian, orang yahudi itu datang lagi dan sudah masuk Islam. Ia berbicara tentang fikih dengan pembicaraan yang baik. Ketika majelis itu bubar, Al-Ma’mun memanggilnya dan bertanya: “Bukankah engkau teman kami yang dulu?”. Orang itu menjawab, “Ya”. Al-Ma’mun berkata: “Apa yang menyebabkan engkau masuk Islam?” Orang Yahudi itu menjawab: “Setelah aku meninggalkan majelismu, aku ingin menguji agama-agama ini. Sebagaimana tuan ketahui, aku mempunyai tulisan yang bagus. Maka aku mengambil kitab Taurat, kemudian kutulis tiga naskah dan aku tambahi serta aku kurangi di dalamnya. Kemudian aku memasukkan Taurat itu ke dalam kuil dan dibeli orang dariku. Kemudian aku ambil Injil, lalu aku tulis tiga naskah aku tambahkan dan aku kurangi di dalamnya, lalu aku memasukannya ke dalam gereja dan dibeli dariku. Kemudian aku mengambil Al-Qur’an dan aku menulis tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangi di dalamnya, aku membawanya kepada para penjual naskah (Al-Qur’an) lalu mereka memerikasanya. Ketika mereka menemukan adanya tambahan dan kekurangan didalamnya, mereka pun menolaknya dan tidak mau membelinya. Maka tahulah aku bahwa ini adalah kitab yang terpelihara. Inilah yang menyebabkan aku masuk Islam. Karena pembeli Taurat dan Injil tidak mengetahui bahwa tulisan itu sudah ditambah dan dikurangi sedangkan Al-Qur’an spontan dapat diketahui, jadi betul-betul dijaga oleh Allah”.

Subhanallah ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar