Telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa
bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis yang sangat penting dalam
kehidupan dan selalu berperan dalam berkomunikasi. Implementasinya manusia
mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan.
Bahasa hidup di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi.
Kelangsungan hidup sebuah bahasa
sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya.
Dengan kata lain, budaya yang ada di sekeliling bahasa tersebut akan ikut
menentukan wajah dari bahasa itu.
Begitupun dengan Budaya, yang selalu berkaitan
dengan manusia, mulai sejak lahir mereka sudah berada di lingkungan yang kental
akan budaya, Memang diakui bahwa budaya penting untuk dipahami oleh pemelajar
bahasa, tetapi pengajarannya sering terpisah dari pengajaran bahasa. Joan Kelly Hall (2002) menyebutkan bahwa ancangan kemampuan
komunikatif (communicative competence), misalnya, memang mempertimbangkan
aspek budaya dalam pembelajaran bahasa dengan lebih menekankan pada penggunaan
bahasa, tetapi dalam pelaksanaannya bahasa masih dianggap sebagai satu sistem
homogen yang terpisah dari interaksi penutur dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun sastra
adalah perpaduan antara budaya dan bahasa yang menciptakan suatu karya
sastra karna adanya imajinasi dari budaya yang ada di sekeliling mereka. Sastra
mempunyai banyak bentuk, diantaranya yang sering kita jumpai adalah puisi,
syair, prosa dan lain sebagainya, dalam penciptaan karya sastra tersebut,
masyarakat lebih sering terinspirasi dari budaya disekeliling mereka, maka
dengan terciptanya karya sastra yang berasal dari budaya akan menimbulkan
keindahan didalamnya.
Contoh nyata
yang sering kita dengar, diantaranya kata “butuh” dalam masyarakat Indonesia di
Pulau Jawa berarti perlu, tetapi dalam masyarakat Indonesia di Kalimantan
berarti kemaluan. Orang Bengkulu memanggil kakek dan nenek itu dengan sebutan
nenek lanang dan nenek tino, sedangkan dalam bahasa Indonesia nenek itu berarti
ibu dari ayah atau ibu kita. Orang makassar dan Ambon menggunakan kata bunuh
(yang tentu sinonimnya matikan) untuk listrik, lampu televisi dan radio.
Seperti dalam kalimat “tolong bunuh lampunya”, sudah siang. Sementara itu kata
bujur yang berarti pantat bagi orang Sunda, ternyata berarti “terima kasih”
bagi orang Batak (Karo), dan “benar” bagi orang Kalimantan Selatan
(Banjarmasin).
Jadi, begitu
penting mengetahui hubungan antara tiga elemen tersebut, terlebih pada bahasa
yang tidak dapat dipisahkan dari budaya, dari perpaduan bahasa dan budayalah
karya-karya sastra tercipta.
Dari aspek
bahasa, setiap daerah yang berkebudayaan memiliki ciri khas bahasa yang berbeda
dengan daerah yang lain. Sebagai contoh bahasa sunda dan jawa yang banyak
sekali kemiripan kata akan tetapi sangat jauh arti katanya.
Bahasa Sunda Bahasa Jawa
Amis: manis Amis:
amis
Gedang: papaya Gedhang:
pisang
Raos: enak Raos:
rasa
Atos: sudah Atos:
keras
Cokot: ambil Cokot:
gigit
Kata dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa meskipun
bentuk dan ejaannya sama namun berbeda artinya. Hal ini disebabkan adanya
perbedaan latar budaya yang mempengaruhi arti tersebut. Tata cara berbahasa seseorang
sangat dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat
tertentu. Kebudayaan yang sudah mendarah daging sangat berpengaruh pada bahasa
seseorang. Itulah sebabnya kita perlu memahami norma-norma kebudayaan sebelum
atau selain mempelajari bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar