Cari Blog Ini

Senin, 02 Desember 2013

Korelasi budaya, sastra dan budaya



Telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis yang sangat penting dalam kehidupan dan selalu berperan dalam berkomunikasi. Implementasinya manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan. Bahasa hidup di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya. Dengan kata lain, budaya yang ada di sekeliling bahasa tersebut akan ikut menentukan wajah dari bahasa itu.
Begitupun dengan Budaya, yang selalu berkaitan dengan manusia, mulai sejak lahir mereka sudah berada di lingkungan yang kental akan budaya, Memang diakui bahwa budaya penting untuk dipahami oleh pemelajar bahasa, tetapi pengajarannya sering terpisah dari pengajaran bahasa. Joan Kelly Hall (2002) menyebutkan bahwa ancangan kemampuan komunikatif (communicative competence), misalnya, memang mempertimbangkan aspek budaya dalam pembelajaran bahasa dengan lebih menekankan pada penggunaan bahasa, tetapi dalam pelaksanaannya bahasa masih dianggap sebagai satu sistem homogen yang terpisah dari interaksi penutur dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun sastra  adalah perpaduan antara budaya dan bahasa yang menciptakan suatu karya sastra karna adanya imajinasi dari budaya yang ada di sekeliling mereka. Sastra mempunyai banyak bentuk, diantaranya yang sering kita jumpai adalah puisi, syair, prosa dan lain sebagainya, dalam penciptaan karya sastra tersebut, masyarakat lebih sering terinspirasi dari budaya disekeliling mereka, maka dengan terciptanya karya sastra yang berasal dari budaya akan menimbulkan keindahan didalamnya.
Contoh nyata yang sering kita dengar, diantaranya kata “butuh” dalam masyarakat Indonesia di Pulau Jawa berarti perlu, tetapi dalam masyarakat Indonesia di Kalimantan berarti kemaluan. Orang Bengkulu memanggil kakek dan nenek itu dengan sebutan nenek lanang dan nenek tino, sedangkan dalam bahasa Indonesia nenek itu berarti ibu dari ayah atau ibu kita. Orang makassar dan Ambon menggunakan kata bunuh (yang tentu sinonimnya matikan) untuk listrik, lampu televisi dan radio. Seperti dalam kalimat “tolong bunuh lampunya”, sudah siang. Sementara itu kata bujur yang berarti pantat bagi orang Sunda, ternyata berarti “terima kasih” bagi orang Batak (Karo), dan “benar” bagi orang Kalimantan Selatan (Banjarmasin).
Jadi, begitu penting mengetahui hubungan antara tiga elemen tersebut, terlebih pada bahasa yang tidak dapat dipisahkan dari budaya, dari perpaduan bahasa dan budayalah karya-karya sastra tercipta.
Dari aspek bahasa, setiap daerah yang berkebudayaan memiliki ciri khas bahasa yang berbeda dengan daerah yang lain. Sebagai contoh bahasa sunda dan jawa yang banyak sekali kemiripan kata akan tetapi sangat jauh arti katanya.


Bahasa Sunda                                                                        Bahasa Jawa
Amis: manis                                                                            Amis: amis
Gedang: papaya                                                                      Gedhang: pisang
Raos: enak                                                                               Raos: rasa
Atos: sudah                                                                             Atos: keras
Cokot: ambil                                                                           Cokot: gigit
Kata dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa meskipun bentuk dan ejaannya sama namun berbeda artinya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan latar budaya yang mempengaruhi arti tersebut. Tata cara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Kebudayaan yang sudah mendarah daging sangat berpengaruh pada bahasa seseorang. Itulah sebabnya kita perlu memahami norma-norma kebudayaan sebelum atau selain mempelajari bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar